Kisah Presiden Soekarno yang Dibuat Marah oleh Presiden AS
Wartaharian – Pada tahun 1960, Presiden Soekarno mendapat undangan langsung dari Presiden AS Dwight D. Eisenhower untuk berkunjung ke Gedung Putih. Soekarno tentu saja terbuka atas undangan itu, karena Indonesia merasa perlu silaturahmi dan menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat.

Perlakuan Dingin dari Presiden AS
Namun, begitu mendarat di bandara, Soekarno langsung dibuat heran karena tidak disambut oleh Eisenhower. Soekarno masih berpikir positif, bahwa sambutan resmi akan dilakukan di Gedung Putih. Tapi, setibanya di sana, Eisenhower pun tak muncul. Soekarno hanya disambut oleh staf protokol dan langsung diarahkan ke ruang tunggu.
Setelah beberapa jam menunggu, Soekarno memanggil kepala protokol Gedung Putih dan meluapkan amarahnya. “Apakah saya harus menunggu lebih lama lagi? Kalau begitu, saya akan berangkat sekarang juga,” tegas Soekarno. Kepala protokol langsung panik dan buru-buru melapor ke atasannya. Tak lama kemudian, Eisenhower pun datang.
Penyebab Perlakuan Dingin
Ternyata, masalahnya terletak pada kehadiran Ketua Partai Komunis Indonesia, Dipa Nusantara Aidit, dalam rombongan Soekarno. Diplomat AS dan tangan kanan Eisenhower, Howard Palfrey Jones, menulis bahwa Eisenhower sangat tidak senang dengan kehadiran Aidit. Mengingat latar belakang ideologinya, Eisenhower menganggap kehadiran Aidit sebagai penghinaan.
Perubahan Hubungan Diplomatik
Eisenhower sendiri lengser pada 1961, dan posisinya digantikan oleh John F. Kennedy, yang jauh lebih moderat memandang Soekarno. Berbeda dari pendahulunya, Kennedy meyakini bahwa Soekarno bukan musuh, melainkan pemimpin berpengaruh di dunia ketiga yang harus dirangkul dan bukan dijauhi. Atas dasar inilah, pemerintahan AS di bawah Kennedy mulai membuka kembali jalur kerja sama yang lebih hangat dengan Indonesia.
Soekarno pun merespons dengan sikap terbuka. Hubungan keduanya bahkan terjalin cukup akrab secara pribadi. Sebagai bentuk penghormatan, pada 1963 Soekarno membangun Wisma Indonesia di Istana Negara, yang dirancang sebagai tempat tinggal Kennedy selama kunjungan kenegaraannya ke Indonesia pada 1964. Namun, rencana itu tak pernah terwujud, karena Kennedy tewas ditembak di Dallas, Texas, pada 22 November 1963.
“Aku sangat menyesal bahwa ia tidak pernah bisa datang,” ujar Soekarno, mengenang sahabat politiknya yang wafat sebelum sempat menginjakkan kaki di Indonesia. Kisah ini menjadi contoh bagaimana hubungan diplomatik antara dua negara dapat berubah dengan perubahan kepemimpinan.














