1. Rencana Serangan Militer Israel yang Memicu Polemik
Konflik Gaza semakin memanas setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan rencana serangan militer baru ke Gaza City. Keputusan ini menuai kritik dari militer Israel, keluarga sandera Hamas, dan dunia internasional.
Dalam rapat kabinet keamanan yang berlangsung hingga 10 jam, para menteri menyetujui proposal penguasaan penuh Gaza City. Netanyahu menyebutnya sebagai langkah awal menuju kendali total Israel atas wilayah Gaza. Meskipun tidak menyebut kata “pendudukan”, banyak pihak menilai arti kebijakan ini mengarah ke sana.
Operasi militer Israel ini belum memiliki jadwal pasti. Militer perlu memanggil kembali ribuan pasukan cadangan yang sudah kelelahan. Selain itu, harus dilakukan evakuasi paksa terhadap sekitar 800.000 warga Palestina yang tinggal di wilayah target serangan. Sebagian besar sudah berulang kali mengungsi sejak perang Israel Hamas meletus.
2. Penolakan Domestik dan Kecaman Internasional
Rencana penguasaan Gaza City memicu reaksi keras dari berbagai negara. Banyak pihak menyerukan diakhirinya perang Israel Hamas demi mencegah krisis kemanusiaan Gaza semakin parah. Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menilai keputusan Netanyahu salah dan meminta pembatalan segera.
Survei di Israel menunjukkan mayoritas warga menginginkan kesepakatan damai dengan Hamas. Mereka berharap pembebasan 50 sandera yang tersisa, termasuk 20 yang diyakini masih hidup. Beberapa analis menilai ancaman pendudukan penuh Gaza adalah strategi Netanyahu untuk menekan Hamas dalam perundingan gencatan senjata.
Namun, pemerintah Israel menilai Hamas tidak tertarik bernegosiasi. Netanyahu juga dituding memperpanjang perang demi menjaga stabilitas koalisi yang bergantung pada dukungan menteri ultranasionalis seperti Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich. Kedua tokoh ini mendukung migrasi warga Palestina dari Gaza, langkah yang dianggap melanggar hukum internasional.
3. Kekhawatiran Militer dan Keluarga Sandera Hamas
Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, memperingatkan bahwa pendudukan penuh Gaza bisa menjadi jebakan. Ia menilai langkah tersebut berisiko tinggi bagi keselamatan para sandera Hamas yang masih hidup.
Keluarga sandera juga menolak keras rencana Netanyahu. Mereka menegaskan bahwa pembebasan sandera hanya dapat dicapai melalui perundingan damai, bukan melalui eskalasi konflik di Timur Tengah. Harian Maariv melaporkan kekhawatiran bahwa sebagian besar sandera dapat tewas jika operasi militer diperluas.
Dalam wawancara dengan Fox News, Netanyahu mengatakan Israel tidak berniat memerintah Gaza secara permanen. Ia menyebut rencana penyerahan kendali kepada kekuatan Arab, namun tidak merinci negara mana yang akan terlibat. Hingga kini, Netanyahu menolak memberikan peran kepada Otoritas Palestina dalam mengelola Gaza pascaperang.
Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan lebih dari 61.000 warga Palestina tewas akibat perang Israel Hamas. Sementara serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyandera 251 orang.














