Luka Perang yang Terlupakan: Kisah Pilu Perempuan Indonesia Korban Perbudakan Seks Militer Jepang

  • Bagikan

Sejarah Kelam di Balik Hari Ianfu Internasional

Kekalahan Jepang pada 15 Agustus 1945 menandai akhir Perang Dunia II sekaligus awal kemerdekaan Indonesia. Namun, di balik perayaan itu, tersimpan kisah kelam ribuan perempuan yang dipaksa menjadi ianfu—budak seks militer Jepang.
Mereka direkrut dengan tipu daya atau diculik secara paksa, lalu mengalami kekerasan fisik dan mental yang meninggalkan luka seumur hidup. Berbeda dengan Korea Selatan, China, atau Filipina, kisah para ianfu di Indonesia cenderung terkubur dalam diam karena stigma dan rasa malu.

Suara yang Memecah Keheningan

Pada awal 1990-an, Tuminah menjadi perempuan Indonesia pertama yang berani bersaksi di media tentang pengalamannya sebagai ianfu. Kesaksiannya mendorong penyintas lain angkat suara, mengikuti jejak Kim Hak-Sun dari Korea Selatan yang lebih dulu bersuara.
Tuminah menceritakan bagaimana ia dipaksa melayani tentara Jepang setiap hari tanpa bayaran. Ia bahkan mengalami tekanan fisik dan batin yang luar biasa. Setelah meninggal pada 2003, Tuminah dikenang sebagai simbol keberanian untuk melawan lupa.

Kisah Para Penyintas

Mardiyem, remaja berusia 13 tahun dari Yogyakarta, ditipu dengan janji menjadi pemain sandiwara. Ia malah dibawa ke Kalimantan dan dipaksa melayani hingga 15 tentara per hari. Akibatnya, ia mengalami pendarahan hebat dan bahkan pernah dipaksa menggugurkan kandungan.
Sri Sukanti, yang kala itu baru berusia sembilan tahun, diculik dari rumahnya di Jawa Tengah dan menjadi korban pelecehan seorang perwira Jepang selama empat hari berturut-turut. Luka fisik dan trauma mendalam terus membekas hingga akhir hayatnya.

Korban di Seluruh Asia

Sejarawan mencatat lebih dari 200.000 perempuan di Asia menjadi korban sistem ianfu Jepang. Mereka ditempatkan di lebih dari 2.000 kamp militer, termasuk di Indonesia, Korea, Filipina, dan China.
Meskipun pemerintah Jepang pernah membentuk Asian Women’s Fund pada 1995, mereka tidak pernah mengakui tanggung jawab hukum atas kejahatan perang ini. Lebih buruk lagi, sejarah kelam ini bahkan dihapus dari buku pelajaran di Jepang.

Warisan Ingatan yang Harus Dijaga

Meski banyak penyintas telah tiada, kisah mereka tetap hidup melalui buku, penelitian, dan karya seni. Film dokumenter “Tum” karya Fanny Chotimah menjadi salah satu upaya mengabadikan perjuangan Tuminah.
Sejarah ini harus terus diceritakan, bukan untuk membuka luka lama, melainkan sebagai peringatan bahwa kekejaman perang tidak boleh terulang.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *